cara melaksanakan haji yang benar

Kaum muslimin rahimakumullah,
Allah SWT berfirman: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al Hajj 27).

Setelah tuan rumah Arab Saudi, Indonesia merupakan Negara terbesar jamaah hajinya ke Baitullah di Mekkah al Mukarramah setiap kali musim haji. Tahun ini kita mendapatkan kuota haji sekitar 230 ribu jamaah. Tentu saja semua kursi kuota tersebut terisi penuh. Bahkan waiting list calon haji kita di berbagai kota sudah ada yang mencapai 10 atau 11 tahun ke depan.  

Di samping rasa syukur kita karena begitu banyaknya umat Islam yang mampu dan mendaftarkan diri menjadi calon Haji, ada renungan berkenaan dengan kualitas kehidupan umat dan peranannya dalam kehidupan yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Setiap orang yang berangkat haji selalu bercita-cita menjadi haji mabrur. Apa itu haji mabrur dan apa tanda-tandanya? Ini perlu senantiasa disegarkan dalam ingatan calon haji, yang sedang menempuh perjalanan menuju Mekkah, yang sedang mengenakan pakaian ihram dan menjalani manasik haji, maupun saat-saat menunggu giliran pulang ke tanah air, maupun yang sudah sampai di tanah air atau sudah sekian lama menjadi haji.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” Ia juga mengatakan, “Tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.”

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, “Dikatakan bahwa tanda diterimanya haji adalah meninggalkan maksiat yang dahulu dilakukan, mengganti teman-teman yang buruk menjadi teman-teman yang baik, dan mengganti majlis kelalaian menjadi majlis dzikir dan kesadaran.”

Dalam sebuah hadits ketika ditanya tentang haji mabrur Rasulullah saw. menjawab : “haji mabrur adalah memberi makan (ith’amut tha’aam) dan yang bagus ucapannya (thayyibul kalam)”. Dalam hadits lain disebut “menyebarkan salam (ifsyaa-us salam) dan memberi makan (ith’aamut tha’am).

Alangkah indahnya jika ciri-ciri haji mabrur ini terwujud dalam realitas kehidupan sehari-hari masyarakat kita yang masih banyak kekurangan dan menderita.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Dengan kuota per seribu jumlah penduduk, maka jumlah jamaah haji Indonesia setiap tahun lebih dari 200 ribu orang (tahun 2007 sebesar 210 ribu jamaah), maka dalam lima tahun terakhir ini saja sudah ada lebih dari 1 juta haji di Indonesia yang insyaallah bekas-bekas ibadah hajinya masih ada. Kalau yang satu juta orang itu setiap bulan mengeluarkan shodaqoh 50 ribu rupiah, maka akan terkumpul dana shodaqoh 50 milyar per bulan yang bisa digunakan untuk membentengi aqidah umat yang kini banyak digerogoti oleh kegiatan pemurtadan yang dilakukan oleh para aktivis gereja maupun aktivis aliran sesat semacam Ahmadiyah yang belum kunjung dibubarkan oleh Presiden selaku pemangku wewenang pembubaran aliran penoda agama sesuai UU No 1/PNPS/1965.

Memang dengan dana 50 milyar per bulan itu banyak hal yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk menyelamatkan aqidah umat, penyelamatan akhlak umat, peningkatan kualitas pendidikan umat, penguatan ekonomi umat, dan penegakan syariah di bumi pertiwi ini.

Kenapa kesadaran akan hal itu belum terwujud? Disinilah pentingnya aktivitas pembinaan kepada para jamaah haji. Untuk itulah, pada saat silaturrahmi Idul Fitri Sekjen Kemenag Dr. Bahrul Hayat beserta para staf dengan para pimpinan ormas Islam yang tergabung dalam FUI beberapa waktu lalu, telah disampaikan oleh pimpinan Ormas Islam pentingnya pembinaan kepada para jamaah haji di waktu-waktu kosong mereka di tanah suci. Adalah kewajiban Kemenag, khususnya Dirjen Umroh dan Haji serta Dirjen Bimas Islam untuk menyiapkan program pembinaan tersebut dan melibatkan para ulama dan pimpinan ormas Islam untuk pelaksanaannya.

Dengan program pembinaan para jamaah haji, baik tentang wawasan aqidah, syariah, dan tanggung jawab para jamaah haji kepada agama Islam dan umatnya insyaallah kualitas jamaah haji fiddiin, wad dunya, wal akhirah dapat ditingkatkan.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Banyak keluhan selama ini muncul seputar kenapa jamaah haji kita banyak, yang sholat jamaah tambah banyak, yang pakai jilbab tambah banyak, tapi korupsi tambah merebak, kemaksiatan tambah marak, aliran sesat merajalela, liberal terus bergentayangan? Dulu jamaah haji di zaman Belanda, sepulang haji mereka memimpin umat melawan penindasan colonial Belanda. Kini banyak yang haji tapi korupsi, yang haji tambah pelit atau kalau memberikan pinajaman mengambil rente ribanya, yang haji tapi bisnis orgen tunggal, dan lain-lain. Dan kalau yang haji di Jakarta semua komit dengan syariat Allah SWT yang telah mereka datangi Ka’bah-Nya, tentu tidak mungkin seorang non muslim terpilih jadi penguasa.

Sikap mudah tabrak syariah ini tentu bermula dari tidak adanya pembinaan para jamaah haji di tanah suci, maupun sebelum dan sesudah keberangkatannya, atau ada kesalahan pembinaan, yakni menganggap Islam sebatas rukun Islam, ajaran syariat di luar rukun Islam, apalagi tentang ekonomi (al iqtishadiyah) dan politik (as siyasah), dianggap bukan kewajiban agama yang harus mereka jalankan. Itu semua karena banyak haji kita yang terkena virus sepilis, sekularisme, pluralism, dan liberalism. Walau gelarnya haji, tapi cara berfikirnya sekuler yakni memisahkan agama Islam dari kehidupan.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Semoga dengan program pembinaan khusus jamaah haji di tanah suci, jamaah haji pulang ke Indonesia dalam kondisi keimanan dan ketaqwaan yang lebih baik, wawasan dan tanggung jawab keislaman yang lebih baik, punya jiwa kepeloporan dalam kebaikan dan ketaqwaan yang lebih baik, memiliki rencana bisnis penguatan ekonomi umat yang lebih baik, memiliki rencana dakwah penguatan basis kekuatan umat yang lebih baik, sehingga hajinya betul-betul menjadi haji yang mabrur dan lebih berkualitas. Sehingga telah mengambil berbagai kemanfaatan ibadah haji sesuai target disyariatkannya haji bagi umat Islam, sebagaimana firman-Nya:

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS. Al Hajj 28).

Baarakallahu lii walakum…

Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji

Firman Allah”(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi …,” menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan ibadah haji sudah ditentukan oleh Allah Swt. Dari dua belas bulan Kamariah yang ada, Allah Swt. telah memberikan waktu permanen bagi prosesi haji. Penentuan inilah yang membedakan antara haji dan umrah.Syafi’i dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa sese-orang tidak diperkenankan menunaikan ihram haji kecuali pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang menunaikan ihram haji kecuali pada bulan-bulan haji yang telah ditetapkan.Menurut Ibnu Umar, bulan-bulan haji adalah Zulkaidah dan sepuluh hari bulan Zulhijah. Riwayat lain dari Ibnu Umar menyatakan bahwa waktu haji adalah Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijah. (HR Hakim)Hadits yang diriwayatkan Hakim ini termasuk hadits sahih dan sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Al Bukhari dan Muslim

.Masih banyak sekali riwayat lain yang menyebutkan tentang waktu haji.Ibnu Jarir memilih menggabungkan riwayat-riwayat yang ada kemudian menyimpulkan bahwa waktu haji adalah bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijah.Itulah waktu-waktu diperbolehkannya melaksanakan ihram haji. Ihram adalah rukun haji yang pertama kali harus ditunaikan. Ibnu Jarir menegaskan bahwa ihram adalah fardu haji.

 Hal ini juga ditegaskan dalam ayat”… barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu ….” Atha mengatakan bahwa kewajiban yang dikandung dalam ayat tersebut adalah ihram.</div>

demikian.. +Rinal Purba 
Facebook CommentsShowHide

0 komentar

berkomentralah sewajarnya salam saya untuk @BangRinalPurba (senang kenal dan bertemu denganmu)