lempar batu sembunyi tangan artinya

"Lempar batu sembunyi tangan"
Arti: Orang yang licik, setelah melakukan perbuatan tidak terpuji dia tidak berani bertanggung jawab.
arti lain : 1. orang yang tidak berani bertanggung jawab dengan perbuatannya; 2. pengecut
Melempar sebuah kesalahan adalah sesuatu hal yang sangat mudah untuk di lakukan oleh siapa saja. Semudah membalik telapak tangan kita sendiri. Namun pernahkah anda  berpikir, tentang hal itu? Bahwa melempar sebuah kesalahan adalah sesuatu yang sangat tidak terpuji dan banyak akibat yang di timbulkannya.

Berbuat salah adalah lumrah dan sangat manusiawi. Sebab manusia pada dasarnya tidaklah sempurna. Tetapi bila kesalahan itu, di lemparkan pada orang lain yang tidak bersalah sudah pasti itu namanya mencelakai orang lain. Akibatnya,orang yang tidak bersalah harus menanggung sesuatu yang tidak seharusnya ia tanggung.
Lempar batu sembunyi tangan adalah sebuah sikap yang tidak gentle dan dapat di katagorikan sebagai seorang pengecut!. Sama halnya dengan maling teriak maling. Tentu saja korbannya pun sangat di rugikan dan bahkan dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang akibat ulah lempar batu sembunyi tangan.

Coba kita perhatikan kehidupan di bumi ini. Ada sesuatu yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu, yaitu bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Tanggung jawab inilah yang memberi kita nilai dalam hidup apabila kita dapat memenuhinya sesuai dengan aturannya. Bila tidak terciptalah manusia egois, melanggar aturan serta norma-norma hidup yang ada, salah dan benar pun sama saja baginya.

cerita terkait peribahasa tersebut
Waktu itu gw masih lucu-lucunya, gw masih kelas 3 SMA. Gw punya 3 orang teman karib dari jaman-jaman sekolah minggu, ada Wina, Olive, dan Yenira. Kita ini kemana-mana selalu berempat, kita seumuran tapi gw lebih setahun diatas mereka jadi saat itu mereka kelas 2 SMA. Banyak kedodolan yang pernah gw lakukan bareng mereka, pertama saat itu si Yenira lagi pengen banget makan buah salak. Jadi setelah pulang latihan paduan suara di gereja kita nemenin dia beli buah salak.

Setelah sampe di kios buah kami bertiga Wina dan Olive nunggu di depan kiosnya. Gw tertarik dengan anggur yang tergantung di kios tersebut. Gw bilang sama Wina kalo gw mau beli anggur tapi gw ga bawa duit. Ya udah pasrah aja dulu.. Tapi gw masih penasaran sama tu anggur, akhirnya gw masuk ke dalam kios.
Sambil megang-megang anggur gw nanya sama yang jualan, “Mas ini anggur berapaan??”
“1 ons 5000 rupiah, mbak..” *yaaah anggap aja harganya segitu*, kata masnya sambil menimbang salaknya Yenira.

“boleh dicoba ‘gak mas?” kata gw dan gayungpun bersambut si masnya mengangguk.. ga tanggung-tanggung gw metik satu persatu tu anggur bolak balik kasih ke Wina dan Olive. Yenira yang dari tadi sebelah gw udah mulai melotot ke arah gw. Yaaaa.. karena gw dengan binal ngambil anggur yang kira-kira mencapai 1 ons tadi. Setelah itu tancap gas sebelum si masnya sadar bahwa tangkai-tangkai anggurnya gundul.

Ini kejadian masuh berhubungan dengan mereka, tapi biang keladi alias tersangkanya adalah Olive. Malam itu gw sama mereka bertiga plus additional player Romeo cowoknya Olive mau makan di kaki lima. Kita iseng-iseng nyoba di warung tendanya Mas Joko. Sebenarnya ayam bakarnya enaaaaak banget, sambelnya juga enak mantap nampol. Tetapi sayang kalo kalian denger ceritanya pasti jijay dan pengen nyakar mukanya si Olive.

Kesan pertama kenapa ya sepi banget, pikiran kita saat itu ah baru buka paling makanya sepi. Terus saat kita mesen makanan si mbaknya lelet banget ngerjain ini itu anunya. Kita udah mesen nyaris setengah jam belum datang juga, ada yang baru dateng malah yang dateng duluan dilayani. Jangankan makanan, minuman yang kami pesen pun belum hadir terhidang dengan indah di meja. Mungkin yang mau masak lagi ngejar-ngejar ayamnya, trus metik buah jeruk dulu untuk dibuat minuman makanya lama.

“Aduuuuh mana niiiih... Aku tuh udah lapar..” Kesel banget si Olive sambil ngegebrak-ngebrak meja, kita berusaha menenangkan Olive yang uda lapar stadium 4. Olive dari tadi marepeeeet aja kerjanya, si Romeo cuma dieeem aja. Makin kesellah kita setelah 1 jam ga dapat perlakuan apa-apa dari pramusajinya. Si Olive dengen kesel membuka wadah sambel, dan apa yang dilakukannya Saudara-saudara???
Dengan adegan slow motion yang terekam diotak gw, bibirnya Olive dimonyongkan dan dari lehernya terlihat ada sesuatu yang lewat daaaaan “Cuuuuuuiiiiih...........”, diludahinyalah sambal tersebut, gw, Wina, dan Yenira terperanjat sambil melotot ke arah Olive dan dengan serempak tanpa komando kami nyebut nama dia sambil dengan suara lirih, “Oliiiiive....”

“Heeh, apa-apaan.. kesel sih kesel tapi jangan ampe gitu..” kata Romeo yang takjub ngeliat tingkah laku dari ceweknya sendiri. Akhirnya tanpa A B C D E dan seterusnya kami pergi meninggalkan warung makan teresbut.

Kira-kira sebulan setelah itu gw sama Wina pergi coba-coba ke Warung makan kaki limanya mas Joko, sambil senyum-senyum inget kejadian si Olive. Kita sama-sama mesen ayam bakar, bedanya pelayanannya cepet kok, ayamnya juga enak kok.. Tapi sebelum makan gw sama Wina lihat-lihatan dulu saat mau ngambil sambel, kemudian kami berdoa supaya sambalnya aman sentosa. Apa pun yang terjadi, terjadilah.. biarkan perut yang mengatur selanjutnya.
Facebook CommentsShowHide