nama kasta di bali

Sistem kasta Bali adalah suatu sistem organisasi sosial yang mirip dengan sistem kasta India. Akan tetapi, sistem kasta India jauh lebih rumit daripada Bali, dan hanya ada empat kasta dalam sistem kasta Bali.

Kasta Sudra (Jaba) merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah, dimana masyarakat yang berasal dari kasta ini harus berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa - Brahmana, Ksatria dan Ksatria (yang dianggap Waisya). Sampai saat ini masyarakat yang berasal dari kasta ini masih menjadi parekan dari golongan Tri Wangsa. Dari segi nama warga masyarakat dari kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut : Wayan, Made, Nyoman dan Ketut. Dan dalam penamaan rumah dari kasta ini disebut dengan "umah"

Waisya-orang yang bergerak dibidang ekonomi, yang bertugas untuk mengatur perekonomian atau seseorang yang memilih fungsi sosial menggerakkan perekonomian. Dalam hal ini adalah pengusaha, pedagang, investor dan usahawan (Profesionalis) yang dimiliki Bisnis / usaha sendiri sehingga mampu mandiri dan mungkin memerlukan karyawan untuk membantunya dalam mengembangkan usaha / bisnisnya.

Ksatria-orang orang yang bekerja / bergelut di bidang pertahanan dan keamanan/pemerintahan yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial menjalankan kerajaan: raja, patih, dan staf - stafnya. Jika dipakai ukuran masa kini, mereka itu adalah kepala pemerintahan, para pegawai negeri, polisi, tentara dan sebagainya.

Brahmana-orang-orang yang menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan, para cendikiawan serta intelektual yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai rohaniawan.

Pada zaman dahulu masyarakat di Bali tidak boleh menikah dengan kasta yg berbeda. Seiring perkembangan zaman, aturan itu tidak berlaku lagi untuk saat ini. Mereka boleh menikah dengan kasta yg berbeda dengan syarat kasta yg perempuan harus mengikuti yg laki-laki. Jika kasta perempuan dari kasta yg tinggi, menikah dng kasta yg lebih rendah, maka kasta si perempuan akan turun mengikuti suaminya. Begitu juga sebaliknya, Karena di Bali laki-lakilah yg menjadi ahli waris dari generasi sebelumnya.

Budaya Bali Benteng Indonesia Hadapi Globalisas
Eksistensi budaya Bali dinilai bisa menjadi benteng Indonesia mengahadapi era globalisasi. Karena itu, Bali yang mengedepan sektor pariwisata sebagai leading sektor pembangunan di Bali hendaknya mengemas pariwisata Bali berbasis budaya, yang menjadi karakter pengembangan pariwisata Bali yang membedakannya dengan pengembangan pariwisata dengan daerah lain.

“Budaya Bali jadi benteng kekuatan Indonesiaa hadapi era globalisasi. Pengembangan pariwisata Bali ke depan harus tetap mempertahankan budaya dalam menghadapi era globalisasi,” ungkap calon presiden peserta konvensi partai Demokrat Hayono Isman usai debat capres di hotel Aston, Denpasar, Selasa (18/2) malam.

Menurut dia, Pariwisata Bali merupakan pariwisata budaya, bukan pariwisata yang lainnya. Pariwisata berbasis budaya itu, kata dia, menjadi benteng terakhir budaya Indonesia. Sebab Bali, menurut dia, menjadi jantung pariwisata Indonesia yang akan menyelamatkan dan menjadi kekuatan menghadapi arus globalisasi.

Pergolakan Bali Di Simpang Globalisasi
TENTU masih belum lekang dari ingatan ketika Amit Virmani merilis Cowboys in Paradise pada Mei silam. Film dokumenter ihwal lelaku para gigolo di kawasan Pantai Kuta itu tak urung membuka selubung kotak pandora Pulau Dewata. Meski sempat menyulut kontroversi, namun tak sedikit yang diam-diam mengamini bahwa Bali kini mengalami penggerusan budaya dan pergulatan identitas. Globalisasi telah menusuk jauh dalam relung jantung kehidupan masyarakat Bali.

Dalam konteks demikian, karya Professor Nengah ini menautkan signifikansinya. Buku ini mendaraskan kajian antropologi-budaya hatta mampu menyibak tabir gelap anomali kehidupan masyarakat Bali. Tak hendak menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, lelaki kelahiran Tabanan, 17 Februari 1951, ini menyuguhkan informasi berbasis riset yang objektif sehingga menjadi otokritik-evaluatif bagi masyarakat Pulau Seribu Pura sendiri.

Menurut Professor Nengah, akar tunjang pergolakan kultural Bali bermula tumbuh ketika rezim Orde Baru mengarusutamakan kebijakan pembangunan ekonomi di sektor pariwisata. Simsalabim. Dalam tempo relatif cepat, pariwisata Bali tumbuh serupa gadis perawan nan elok jelita—meski untuk itu terjadi eksploitasi besar-besaran. Lahan pertanian berubah fungsi menjadi resort wisata. Dan, payung industrialisasi pariwisata pun terkembang dengan jumawa (hal. 65).

Wisata Budaya dan Sejarah di Bali

Daya tarik nomor satu dari Bali adalah pandangan dramatis di beberapa daerah yang tidak memiliki bandingannya dengan tempat lain di dunia. Pemandangan indah dengan lansekap alami dan keindahan alamnya masih tersedia di Pulau Bali untuk dinikmati. Wisata budaya dan sejarah juga merupakan bagian penting dari industri pariwisata di Bali.

Budaya Bali dikenal dengan ketahanannya yang dinamis. Selain itu, perjalanan tidak akan pernah selesai tanpa wisata budaya dan sejarah di Bali. Masyarakat Bali memiliki komitmen untuk melindungi kesucian budaya Bali. Temukan panduan lengkap anda ke wisata budaya dan sejarah di Bali.
+Rinal Purba 
Facebook CommentsShowHide

0 komentar

berkomentralah sewajarnya salam saya untuk @BangRinalPurba (senang kenal dan bertemu denganmu)